Kamis, 28 April 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS SD


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pelaksanaan Tindakan Setiap Siklus
Sebagaimana telah dituliskan di depan, penelitian tindakan terhadap pembelajaran menulis ini dilakukan dalam 3 siklus yang setiap siklus meliputi 2 atau 3 kali pertemuan. Setiap pertemuan menggunakan waktu 2 x 35 menit. Yang menjadi buku sumber adalah buku teks ”Bina Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas V Semester I” yang diterbitkan oleh Erlangga. Buku tersebut dimiliki oleh semua siswa kelas V.1 sehingga membantu kelancaran pembelajaran menulis
Ada sembilan tema pelajaran dalam buku itu, yaitu tema hiburan, kependudukan, keamanan dan keselamatan, ekonomi, pahlawan, pertanian, lingkungan, kegiatan, dan peristiwa. Dari pelajaran pertama hingga kesembilan terdapat materi keterampilan menulis. Namun demikian, pada dasarnya materi menulis yang termuat meliputi menulis surat (pribadi dan resmi), menulis berdasarkan gambar seri, menulis berdasarkan pengalaman, dan menulis percakapan.
Oleh guru biasanya materi tidak disampaikan sesuai urutan dalam buku teks karena guru menerapkan prinsip penyampaian materi dari yang mudah ke yang sukar, atau dari yang sederhana ke yang kompleks. Misalnya menulis berdasarkan gambar yang terdapat pada pelajaran kedua disampaikan terlebih dahulu, sedangkan menulis surat undangan pada pelajaran pertama disampaikan berikutnya. Pertimbangannya, menulis berdasarkan gambar lebih mudah dibandingkan menulis surat undangan.
Adapun hasil pelaksanaan tindakan setiap siklus adalah sebagai berikut ini.
1. Siklus I
  Pada siklus pertama ini, materi pelajaran diambil dari buku teks ”Bina Bahasa Indonesia” pada pelajaran ke-2 yang bertema kependudukan dengan pokok bahasan ”menulis berdasarkan gambar seri”. peneliti mengawalinya dengan melakukan tahap perencanaan tindakan yang, mencakup kegiatan:
a.     menyusun silabi dan rencana pembelajaran (RP) menulis  untuk  setengah semester
b.     merancang skenario pembelajaran menulis dengan pendekatan proses dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) guru memberikan apersepsi dengan menggali pengalaman siswa mengenai peristiwa yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari, (2) guru memperlihatkan beberapa  gambar seri yang menggambarkan suatu peristiwa, (3) guru memberi contoh kerangka karangan berdasarkan gambar seri tersebut, (4) guru memberi contoh mengembangkan beberapa topik yang ada dalam kerangka karangan, (5) guru memberi contoh memperbaiki isi karangan, (6) guru memberi contoh memperbaiki pemakaian bahasa dalam karangan, (7) guru meminta siswa melihat gambar seri yang ada dalam buku teks, (8) guru meminta siswa menyusun kerangka karangan sesuai dengan gambar seri, (9) siswa diminta mengembangkan setiap poin dalam kerangka karangan sehingga menjadi draf karangan (10) draf karangan selanjutnya diberi feedback oleh guru pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki isi dan dibetulkan bahasanya, (11) siswa melakukan revisi dan pengeditan bahasa,  (12) siswa  menulis kembali karangan masing-masing serta memberikan ilustrasi sesuai keinginan siswa sehingga menjadi karangan final, (13) dosen, guru, dan kepala sekolah mengevaluasi dan menganalisis hasil tulisan siswa sebagai bahan pertimbangan tingkat keberhasilan siklus I, dan (14) guru bersama siswa memajang semua tulisan pada papan displai
c.     membuat media pembelajaran  berupa  gambar seri pada kertas manila,  contoh kerangka karangan untuk gambar seri tersebut, draf karangan yang merupakan pengembangan dari kerangka tersebut, serta contoh pemanfaatan feedback untuk merevisi dan mengedit tulisan yang diketik pada kemudian diperbanyak untuk dibagikan kepada para siswa.
d.     menyusun pedoman observasi terhadap proses pembelajaran serta pedoman penilaian terhadap hasil karangan siswa
e.     menyiapkan papan pajang untuk menempelkan seluruh karya siswa yang telah diberi ilustrasi
Aktivitas-aktivitas perencanaan tindakan tersebut dilakukan oleh dosen, guru, dan kepala sekolah dalam waktu satu minggu sebelum pelaksanaan pembelajaran (minggu pertama bulan Agustus 2007)
.Tahap pelaksanaan tindakan yang berupa pembelajaran menulis dengan pendekatan peroses 5 fase dilakukan dalam waktu 3 kali tatap muka yang setiap tatap muka menggunakan waktu 2 x 35 menit. Pada pertemuan pertama diawali dengan pemberian apersepsi berupa tanya jawab tentang  penduduk di Indonesia yang sudah dibahas dalam pelajaran membaca. Selanjutnya, siswa diminta mengamati gambar seri yang ada dalam buku teks pada halaman 24 dan 25, dan mengurutkan ketiga deretan gambar seri tersebut. Kemudian, guru memberi contoh membuat kerangka karangan untuk tiga deret gambar seri yang masing-masing deret memuat 3 gambar.Selanjutnya guru memberi contoh mengembangkan salah satu kerangka karangan menjadi sebuah karangan (telah diketik, digandakan, dan dibagikan kepada siswa) Dalam contoh karangan yang dibagikan tersebut sengaja  dibuat terdapat  kesalahan pada aspek isi maupun bahasanya. Kemudian, guru meminta siswa memperbaiki kesalahan isi dan bahasa pada karangan di bawah bimbingan guru. Setelah siswa diberi contoh melakukan tugas mengarang melalui tahap-tahap menulis dengan benar, selanjutnya mereka  diminta menulis berdasarkan gambar seri yang termuat pada halaman 31. Sebelumnya para siswa   mengurutkan deretan gambar seri yang terdiri atas lima gambar  tersebut di bawah bimbingan guru. Setelah diperoleh urutan yang benar, siswa diminta membuat kerangka karangan sesuai gambar seri dan mengumpulkannya pada guru. Siswa diminta membuat minimal sebuah poin/catatan untuk sebuah gambar sehingga minimal akan diperoleh lima poin pada kerangka karangan. Selanjutnya, kerangka tersebut dikumpulkan pada guru yang akan diperiksa untuk diberi catatan pada yang dinilai kurang baik.
Pada pertemuan kedua, guru membagikan kerangka karangan kepada masing-masing siswa untuk dikembangkan menjadi sebuah karangan pada kertas folio tersendiri. Siswa diminta membuat minimal sebuah paragraf untuk setiap poin yang ditulisnya dalam kerangka karangan. Selama penaksanaan aktivitas menulis tersebut, guru memberikan bimbingan kepada para siswa yang merasa mengalami kesulitan, terutama mengenai detail peristiwa yang terdapat pada gambar. Hampir 50% siswa yang minta dijelaskan.  Karangan yang sudah selesai  dikumpulkan kepada guru. Karangan tersebut selanjutnya diamati guru dalam hal organisasi isi dan bahasanya agar guru memiliki gambaran tentang hal-hal yang perlu mendapat perhatian besar pada saat revisi dan pengeditan.
Pada pertemuan ketiga, karangan dibagikan kepada para siswa sesuai nama yang tertera. Kemudian, di bawah bimbingan guru, para siswa melakukan revisi atau perbaikan isi karangan dengan cara siswa diminta membaca karangannya dan menilai isinya sudah lengkap belum. Penilaian ini dikaitkan dengan kesesuaian isi tiap paragraf  dengan gambar yang dimaksud. Siswa yang merasa isi karangannya kurang sesuai dengan gambar, siswa tersebut dapat memperbaikinya dengan bantuan guru. Begitu halnya dengan siswa yang merasa karangannya belum memuat semua peristiwa yang terdapat pada gambar seri, dia dibimbing untuk melengkapinya. Setelah melakukan revisi, siswa dipandu guru untuk memperbaiki bahasanya (pengeditan) Berdasarkan pengamatan guru, kesalahan bahasa yang banyak dilakukan siswa adalah pemakaian tanda koma, titik, penulisan kata depan, dan pemakaian kata yang tidak tepat. Tahap pengeditan ini dilakukan dengan cara guru memberi contoh pemakaian aspek bahasa (koma, titik, kata depan, kata yang tepat) yang salah dan cara pembetulannya. Kemudian siswa diminta menemukan kesalahan yang sejenis pada karangannya, jika ada mereka harus mengoreksinya. Kalau karangan sudah selesai diperbaiki bahasanya, selanjutnya bisa ditulis ulang di rumah untuk dikumpulkan hari berikutnya..
Semua karangan siswa yang telah dikumpulkan, selanjutnya ditempelkan pada dua papan pajang yang terdapat di depan kelas V,1. Penempelan karya siswa tersebut dilakukan oleh para siswa di bawah bimbingan guru. Adapun pemajangan karangan dilakukan selama sepuluh hari. Tampak para siswa berebutan membaca karangan temannya.
 Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap pelaksanaan tindakan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut ini.
a.        60% siswa belum dapat membuat kerangka karangan yang lengkap dan sesuai dengan urutan gambar dan detail peristiwa pada gambar (umumnya hanya memuat 3 poin, padahal seharusnya minimal ada 5 poin karena ada 5 gambar)
b.        50% siswa belum dapat mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang lengkap, yakni ada yang tidak mengembangkan poin tertentu pada kerangka karangannya dan ada yang menulis hanya satu kalimat pendek untuk sebuah poin (bukan sebuah paragraf).
c.        50% siswa belum dapat memperbaiki isi karangannya yang kurang lengkap atau belum selesai yang tampak dari  tidak adanya  perbedaan antara karangan yang belum direvisi dengan yang sudah
d.        40% siswa belum dapat memperbaiki kesalahan bahasa dalam karangannya yang ditunjukkan dari masih adanya kesalahan bahasa pada aspek tanda koma, titik, penulisan kata depan, dan pemakaian kata tidak tepat
e.        40% siswa belum menampakkan kesungguhan dan aktif dalam melakukan tahap-tahap menulis
f.          55% belum mencapai ketuntasan belajar menulis karena nilai hasil karangannya masih di bawah 65.

Berkaitan dengan hasil observasi yang menunjukkan bahwa indikator penelitian ini belum tercapai, peneliti berupaya menggali faktor penyebab fenomena tersebut, kemudian melakukan refleksi bersama-sama. Adapun hasilnya sebagai berikut ini.
a.        Para siswa belum bisa membuat kerangka karangan secara lengkap karena mengikuti contoh yang diberikan, yakni membagi tulisan menjadi tiga bagian (pembukaan, isi, penutup). Hal ini akan diperbaiki dengan menerangkan dan memberi contoh kerangka karangan yang lebih tepat pada pembelajaran berikutnya.
b.        Para siswa kurang mampu mengembangkan poin-poin dalam kerangka karangan ke dalam paragraf-paragraf dan wacana yang lengkap dan utuh serta memperbaiki isi karangannya (merevisi) karena umumnya kurang memahami peristiwa yang terdapat dalam gambar. Ini menunjukkan gambar seri yang menjadi sumber materi kurang jelas dan masalahnya tidak dikuasai para siswa. Faktor  ini juga menjadi penyebab para siswa kurang antusias dan aktif dalam melakukan tahap-tahap menulis serta karangannya tidak mencapai nilai 65. Dengan kata lain, para siswa merasa asing dengan masalah kependudukan yang digambarkan sehingga mereka enggan untuk menulis sebaik-baiknya. Untuk menghindari terulangnya masalah tersebut, pada pembelajaran berikutnya, siswa akan diberi pilihan topik karangan dan yang diperkirakan dikuasai serta disukai mereka.
c.        Para siswa belum  dapat memperbaiki kesalahan bahasa pada aspek yang dicontohkan karena kesulitan menemukan letak-letak kesalahan pada karangannya. Selain itu, waktu yang diberikan untuk melakukan tahap pengeditan juga dirasa kurang. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut pada pambelajaran berikutnya siswa akan dibantu dengan memberikan tanda tertentu pada kesalahan bahasanya dan waktu pengeditan  akan ditambah

2. Siklus II
Yang menjadi guru pada siklus ini adalah kepala sekolah sehingga guru kelas bersama dosen  berposisi sebagai pengamat selama proses pembelajaran. Tindakan pada siklus kedua tetap menggunakan pendekatan proses 5 fase dengan materi  “menulis surat pribadi” dan akan menerapkan hasil refleksi dari siklus I. Materi ajar diambil dari buku teks “Bina Bahasa Indonesia” halaman 58.
Pada tahap perencanaan tindakan, peneliti menyusun skenario pembelajaran dengan memperhatikan hasil tindakan siklus I. Selain itu, yang disiapkan adalah media yang berupa contoh-contoh surat pribadi yang ditulis siswa kelas V.1 tahun lalu (saat ini kelas VI). 
Adapun langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh sebagai berikut: (a) guru memberikan apersepsi, (b) guru menunjukkan beberapa contoh surat pribadi, (c) guru meminta siswa menyebutkan bagian-bagian yang ada dalam surat pribadi dan memberi contoh cara menyusun surat pribadi, (d) guru meminta siswa menyusun kerangka surat dengan membebaskan siswa memilih topik dan orang yang dituju, (e) siswa diminta mengembangkan setiap poin dalam kerangka  sehingga menjadi draf surat yang lengkap (f) draf surat selanjutnya diberi tanda-tanda oleh guru pada bagian-bagian yang perlu, yaitu pada masalah isi dan bahasa, (g) siswa melakukan revisi isi, (h) siswa melakukan pengeditan bahasa,  (i) siswa  menulis kembali karangan masing-masing serta memberikan ilustrasi sesuai keinginannya, (j) guru bersama siswa memajang semua surat pribadi pada papan displai, dan (k) dosen, guru, dan kepala sekolah mengevaluasi tulisan siswa sebagai bahan pertimbangan tingkat keberhasilan siklus II.
 Pada tahap pelaksanaan tindakan, guru melakukan pem-belajaran dengan aktivitas sebagai berikut ini. Pertemuan pertama (2 x 35 menit) diawali pemberian apersepsi dengan pertanyaan mengenai pentingnya komunikasi melalui surat dengan saudara atau teman. Selanjutnya guru menunjukkan contoh-contoh nyata surat pribadi juga contoh yang ada dalam buku teks, kemudian guru bersama siswa mengidentifikasi komponen-komponen yang terdapat dalam surat pribadi. Setelah siswa dinilai dapat memahami cara menyusun surat pribadi, mereka diminta membuat surat dengan topik dan tujuan surat yang dipilih sendiri melalui tahap penyusunan kerangka karangan terlebih dahulu, baru mengembangkannya menjadi surat yang lengkap. Meski demikian, bimbingan guru tetap diberikan kepada para siswa yang tampak mengalami kesulitan, baik dalam pemilihan topik surat maupun penyusunan kerangka karangannya. Surat yang sudah selesai dikumpulkan pada guru, yang akan diberi tanda-randa  tentang  kekurangan pada isi dan kesalahan bahasanya. Tanda-tanda tersebut untuk membantu siswa ketika melakukan revisi isi dan pengeditan bahasa yang akan dilakukan pada pertemuan kedua.
Pada pertemuan kedua surat para siswa yang telah diberi tanda-tanda (menggunakan tinta merah) dikembalikan pada siswa masing-masing. Pertama-tama, guru  memandu siswa dalam melakukan perbaikan isi surat berdasarkan tanda-tanda  yang ada. Tanda yang digunakan adalah  plus (+) berarti pada bagian itu perlu ditambah uraiannya, tanda panah (         )   berarti bagian itu perlu dipindah letaknya.sesuai arah panah. Bimbingan merevisi ini dilakukan dengan memanfaatkan satu per satu tanda sehingga siswa memiliki cukup waktu untuk memperbaiki karangannya. Selanjutnya, guru memandu siswa untuk melakukan pengeditan bahasanya. Seperti halnya pada tahap revisi, pada pengeditan ini dilakukan dengan bimbingan menggunakan satu persatu tanda. Tanda tersebut adalah T untuk kesalahan pemakaian tanda titik, K untuk kesalahan pemakaian tanda koma, Sk untuk kesalahan penulisan singkatan, H untuk kesalahan penulisan huruf, dan KD untuk penulisan kata depan. Surat yang telah diperbaiki dikumpulkan kembali kepada guru.
Pada pertemuan ketiga, surat yang memuat coretan-coretan sebagai tanda telah mengalami perbaikan dikembalikan kepada siswa. Selanjutnya, siswa diminta menulis ulang surat tersebut pada lembar kertas yang baru. Kalau sudah selesai, para siswa dapat memberi hiasan sesuai keinginanya supaya menarik kalau dipajang. Sebelum dipajang, surat-surat tersebut dinilai guru. namun nilainya tidak dituliskan pada surat melainkan langsung pada daftar nilai.
Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus II ini diperoleh data sebagai berikut ini.
a.        30% siswa belum dapat membuat kerangka karangan yang lengkap dan sesuai dengan urutan komponen surat
b.        30% siswa belum dapat mengembangkan kerangka karangan menjadi surat yang lengkap, yakni ada yang masih  mengembangkan poin tertentu pada kerangka karangannya dalam satu kalimat pendek (bukan sebuah paragraf) dan  dua poin dikembangkan dalam satu paragraf.
c.        30% siswa belum dapat memperbaiki isi suratnya yang kurang lengkap atau kurang runtut yang tampak dari  tidak adanya  perbedaan antara karangan yang belum direvisi dengan yang sudah
d.        25% siswa belum dapat memperbaiki kesalahan bahasa dalam karangannya yang ditunjukkan dari masih adanya kesalahan bahasa yang sudah diberi tanda oleh guru
e.        25% siswa belum menampakkan kesungguhan dan aktif dalam melakukan tahap-tahap menulis
f.          30% belum mencapai ketuntasan belajar menulis surat pribadi karena nilainya masih di bawah 65.
  Dari hasil refleksi yang dilakukan guru, kepala sekolah, dan dosen diperoleh fakta-fakta dan rencana tindakan sebagai berikut ini.
a.        Siswa belum dapat membuat kerangka karangan secara runtut dan lengkap karena masih belum memahami cara menyusun kerangka karangan dan kesulitan ini akan diupayakan dengan memberi contoh lebih banyak.
b.        Siswa belum mampu mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang utuh dan lengkap karena kurangnya penguasaan kosa kata. Hal ini akan diatasi dengan memberi tugas membaca dan membuat ringkasannya sebelum dilakukan tindakan siklus III.
c.        Siswa kurang maksimal dalam memanfaatkan tanda-tanda yang diberikan guru. baik pada aspek isi maupun bahasa. Ini disebabkan siswa masih belum memahami paragraf yang baik dan kurang baik serta kurang memahami mengapa pemakaian bahasa yang ditandai itu salah. Karena itu, pembetulan yang dilakukan hanya bersifat coba-coba sehingga perbaikan yang dilakukan masih juga salah. Kesulitan ini akan diatasi dengan cara guru memberi banyak contoh tentang paragraf-paragraf yang baik dan penjelasan penyebab suatu pemakaian bahasa salah dan bagaimana membetulkannya. Selain itu, karena pemberian tanda-tanda kesalahan pada karangan sangat membantu siswa dalam melakukan perbaikan, langkah tersebut akan tetap diterapkan pada siklus berikutnya.
d.        Siswa kurang antusias dan aktif selama pembelajaran  berlangsung karena beranggapan menulis surat sulit. Ini akan diatasi dengan pemberian reinforcement  berupa pujian terhadap karangannya. 

3.  Siklus III
Pada siklus ini  kompetensi yang akan diajarkan adalah  “menulis pengalaman yang berkesan”. Yang menjadi guru pada siklus ini adalah guru kelas V.1. Karena tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis,  sebelum melaksanakan siklus III ini, penerapan fase-fase yang berdasarkan hasil penerapan siklus I dan II dinilai belum berhasil diperbaiki untuk diterapkan lagi.
Perencanaan tindakan dilakukan dengan merancang skenario pembelajaran dengan langkah-langkah : (a) guru memberikan apersepsi dengan menggali pengalaman siswa yang dianggap berkesan, (b) guru memberi contoh urutan karangan tentang suatu pengalaman yang berkesan, (c) guru meminta siswa menyusun kerangka karangan, (d) siswa diminta mengembangkan setiap poin dalam kerangka karangan sehingga menjadi draf karangan, (e) draf  selanjutnya diberi feedback oleh guru pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki yakni kejanggalan  isi dan kesalahan bahasanya, (f) siswa melakukan revisi isi (g) siswa melakukan  pengeditan bahasa,  (h) siswa  menulis kembali karangan masing-masing serta memberikan ilustrasi sesuai keinginannya, (i) guru mengevaluasi  karya siswa sebagai bahan pertimbangan tingkat keberhasilan siklus terakhir ini, dan (j)  guru dan kepala sekolah bersama siswa memajang semua karangan pada papan displai. Untuk mengukur ketercapaian siklus III didasarkan pada persentase siswa yang memenuhi ke-6 indikator yang telah dirumuskan. Target persentasenya tentu saja harus lebih besar dibandingkan persentase pada siklus II.
Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan guru dengan melakukan pembelajaran menulis dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama  guru mengadakan apersepsi dengan menanyakan pengalaman para tokoh yang terdapat dalam wacana yang telah dibaca pada pelajaran sebelumnya. Selanjutnya siswa diminta membaca tugas yang ada dalam buku teks halaman 123, yaitu tugas menulis pengalaman yang berkesan. Pertama-tama dengan dibimbing guru, siswa memilih topik tentang hal menarik yang pernah dialaminya. Kemudian, topik tersebut dirinci menjadi sub-sub topik sehingga membentuk sebuah kerangka karangan. Siswa diminta memeriksa kelengkapan sub-sub topik serta urutannya dengan cara membandingkan-nya dengan contoh kerangka karangan yang ditunjukkan guru. Kalau dinilai sudah baik, siswa diminta mengembangkan masing-masing sub topik pada kerangka karangan menjadi paragraf-pargraf sehingga terbentuk sebuah karangan yang lengkap. Karangan yang sudah selesai dikumpulkan pada guru. Selanjutnya guru membaca semua karangan dan memberi tanda-tanda pada bagian-bagian yang dinilai perlu diperbaiki, baik dalam hal isi maupun bahasanya. Adapun tanda yang dipakai sama dengan pada siklus II
Pada pertemuan kedua, karangan dikembalikan kepada penulisnya masing-masing. Dengan bimbingan guru, siswa memperbaiki isi karangan dengan memanfaatkan tanda-tanda yang diberikan guru pada karangannya. Pada umumnya yang masih perlu direvisi adalah paragraf yang isinya belum lengkap. Untuk membantu siswa, guru memberikan contoh sebuah paragraf yang lengkap dan yang kurang lengkap pada kertas manila. Siswa diminta membandingkan paragraf-paragraf yang ditulisnya dengan yang dicontohkan guru. Siswa yang menemukan kekurangan pada tulisannya diminta melengkapinya. Selanjutnya, guru memandu siswa untuk memperbaiki pemakaian bahasanya dengan memanfaatkan tanda-tanda yang diberikan guru pada aspek bahasa. Kesalahan bahasa yang banyak dilakukan siswa adalah penulisan kata depan dan kata berimbuhan di-/di serta ke-/ke, yakni kata depan ditulis serangkai, sedangkan  imbuhan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Untuk memperjelas pemahaman siswa, guru memberikan rumus “di dan ke yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa memilki makna ning atau ing harus ditulis terpisah”. Tampak-nya siswa terbantu dengan penjelasan guru sehingga tahap pengeditan berlangsung lancar.Karangan yang sudah direvisi dan diedit, selanjutnya dikumpulkan pada guru untuk diberi paraf. Adapun penulisan ulang dilakukan di rumah dan  dikumpulkan pada hari berikutnya untuk dipajang.
 Observasi yang dilakukan kepala sekolah dan dosen menghasilkan fakta-fakta sebagai berikut:
  1. 20% siswa masih membuat kerangka karangan yang kurang lengkap dan kurang tuntut
  2. 20% belum dapat membuat pengembangan kerangka menjadi karangan yang utuh dan runtut
  3. 25% siswa belum dapat memperbaiki isi karangan
  4. 15% siswa belum dapat memperbaiki pemakaian bahasanya
  5. 20% siswa belum menampakkan keaktifan dan kesungguhan dalam melakukan fase-fase menulis
  6. 25% siswa masih mendapat nilai menulis di bawah 65
Berkaitan dengan hasil observasi di atas, guru, kepala sekolah, dan dosen melakukan refleksi dengan hasil sebagai berikut ini.
  1. Siswa belum dapat membuat kerangka karangan yang baik karena bimbingan yang diberikan guru tidak bisa maksimal mengingat jumlah siswa dalam satu kelas yang cukup besar, yaitu 48 orang. Pada pembelajaran menulis berikutnya masalah ini akan diatasi dengan meminta para siswa yang masih kesulitan dalam membuat kerangka karangan yang baik untuk duduk di deretan depan. Cara ini memungkinkan mereka mendapat bimbingan secara invidual lebih banyak.
  2. Masalah siswa belum bisa membuat pengembangan kerangka menjadi karangan yang utuh dan runtut  dapat dikaitkan dengan hambatan yang dialami ketika membuat kerangka karangan. Dengan demikian, penempatan para siswa yang mengalami masalah ini pada tempat duduk di depan sekaligus sebagai upaya  mengatasi masalah dalam pengembangan karangan.
  3. Para siswa belum mampu memperbaiki isi dan bahasa dalam karangan, padahal sudah diberi tanda-tanda yang perlu dibehani karena mereka tidak berupaya memperbaikinya, Ini tampak dari fakta bahwa bagian-bagian karangan yang telah diberi tanda oleh guru tidak diperbaiki siswa. Refleksi lebih lanjut mengenai hal ini mendapati bahwa para siswa beranggapan karangannya sudah jadi atau sudah baik sehingga tidak perlu diperbaiki lagi. Mereka juga menyatakan bahwa biasanya tugas menulis hanya sampai pada taraf itu, tidak ada kegiatan lanjutan. Untuk meluruskan pandangan siswa tersebut guru dan kepala sekolah akan menyampaikan cara menulis yang benar melalui berbagai kesempatan, misalnya melalui majalah dinding dan pengarahan saat upacara.
Mengingat capaian pada siklus III yang telah sesuai dengan indkator yang dirumuskan, penelitian ini diakhiri. Namun demikian, karena masih terdapat hambatan dalam pembelajaran menulis seperti di atas, guru kelas V.1 memutuskan untuk tetap menerapkan tindakan pada pembelajaran menulis berikutnya.  

Hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I hingga III di atas dapat dibuat rekapitulasi sebagai berikut:

No.

Indikator
Persentase yang Dicapai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
1
Siswa mampu membuat kerangka karangan secara lengkap dan urut pada fase prapenulisan


40%

70%

80%
2
Siswa mampu  mengembangkan kerangka karangan menjadi draf karangan secara lengkap dan runtut pada fase penulisan


50%

70%

80%
3
Sswa mampu memperbaiki isi karangan sesuai tanda-tanda dari guru pada fase revisi

50%

70%

75%
4
Sswa mampu memperbaiki bahasa karangan sesuai tanda yang diberikan guru pada fase pengeditan


60%

75%

85%
5
Siswa aktif dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tahap-tahap  menulis

60%

75%

80%
6
Siswa mencapai ketuntasan belajar (karangannya memperoleh nilai minimal 65)

45%

70%

75%

Perbandingan persentase yang dicapai pada siklus I, II, dan III menunjukkan adanya peningkatan pada keenam indikator.  Peningkatan paling banyak terdapat pada indikator pertama, yaitu jumlah siswa yang dapat membuat kerangka karangan dengan baik dari 40% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Peningkatan yang tinggi juga terjadi pada indikator keenam, yakni jumlah siswa yang mendapatkan nilai minimal 65, dari 45% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Peningkatan yang cukup tinggi  terjadi pada indikator satu, dua, dan tiga yang masing-masing meningkat 20% dari siklus I ke siklus II. Peningkatan yang kurang berarti terjadi pada indikator ketiga dan enam, yakni hanya mencapai 5% dari siklus II ke siklus III. Adapun secara umum dapat dinyatakan bahwa peningkatan keenam indikator dari siklus I ke II lebih tinggi dibandingkan dari siklus II ke III. Namun demikian, secara keseluruhan ada peningkatan persentase pada semua indikator deri satu siklus ke siklus berikutnya.
B. Pembahasan Hasil Penelitian

Melihat pencapaian indikator-indikator penelitian antarsiklus dapat dinyatakan bahwa penerapan pendekatan proses 5 fase dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil menulis para siswa kelas V.1 SD Negeri 15 Surakarta. Dengan kata lain, aktivitas menulis yang dilakukan siswa melalui tahap prapenulisan, penulisan, revisi, pengeditan, dan pemajangan menghasilkan karangan yang kualitasnya baik. Ini menunjukkan aktivitas-aktivitas dalam proses menulis berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Fenomena tersebut dapat dibenarkan jika dikaitkan dengan penelitian  Baskoff (dalam Raimes, 1992:52) yang mengidentifikasi bahwa kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam karangan para siswa dapat dikaitkan dengan tahap-tahap yang dilalui selama aktivitas menulis berlangsung. Temuan tersebut juga sejalan  dengan hasil eksperimen Simpson (dalam Shaw, 1991) yang mendapati bahwa pada siswa yang tidak melakukan tahap perancangan dan perbaikan karangannya (tahap prapenulisan dan revisi), kekacauan penempatan idenya lebih parah dibandingkan yang melakukannya. Temuan tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai temuan Nunan (1988:89) bahwa guru yang menerapkan pendekatan tradisional  hanya bertujuan agar hasil karangan siswa bebas dari kesalahan, sedangan guru yang menerapkan pendekatan proses lebih bertujuan agar siswa dapat menghasilkan karangan sebaik-baiknya dengan melalui proses memproduksi hingga memperbaiki
Pembelajaran menulis dengan melatih siswa mengerjakannya melalui proses yang seharusnya,  oleh Chan (1986:57) dinyatakan sebagai salah satu upaya “mengasah kreativitas siswa”. Pernyataan tersebut dikaitkan dengan hasil penelitian Rea, Pittman, dan Valley terhadap 34 kelas menulis yang mendapati bahwa kelas-kelas yang menerapkan pendekatan tradisional (berorientasi pada produk) mendorong para siswa untuk mencontoh tulisan yang ada sehingga hal itu menghambat kreativitas mereka (dalam Chan, 1986:56)   Fenomena siswa mencontoh tulisan yang sudah jadi  merupakan hal yang memungkinkan terjadi karena satu indikasi dari pembelajaran menulis yang berorientasi pada produk yaitu dilakukan dengan memberi tugas menulis sebagai tugas di rumah (Nunan, 1988: 16). Ini berarti dalam mengerjakan tugas menulis, para siswa  tidak memiliki skemata tentang cara-cara yang harus dilakuinya untuk menghasilkan tulisan final (Shaw, 1991:225). Karena siswa tidak memiliki pengalaman yang “seru” ketika melakukan aktivitas menulis, sebagai konsekuensinya mereka  memiliki sikap kurang positif terhadap tugas itu (Flower dan Hayes,1981: 271). Konsekuensi lanjutannya adalah setiap ada tugas menulis, siswa tidak termotivasi mengerjakannya sehingga hasil karangannya banyak yang mengecewakan (Shaw, 1991:229).
 Dari tabel 2 dapat dinyatakan bahwa pencapaian  semua indikator pada siklus I masih  rendah. Ini dapat dipahami mengingat pendekatan proses 5 fase baru kali pertama diterapkan. Hal tersebut juga terjadi pada kelas yang diteliti Chan (1986: 25) dan menurutnya yang menjadi penyebab adalah belum terbiasa atau terlatihnya siswa melalui tahap-tahap yang ada namun “kegagapan” tersebut akan hilang kala mereka telah “menikmati” hasilnya.  Pernyataan itu sejalan dengan hasil penelitian ini, yakni adanya peningkatan yang tinggi  pada persentase siswa yang mendapatkan nilai 65 atau lebih yaitu dari 45% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Berkaitan dengan hal tersebut, para siswa menyatakan bahwa pemajangan karangannya menjadikan mereka  berusaha membuat karangan selanjutnya yang lebih baik karena karangannya akan dibaca banyak orang, bukan hanya gurunya. Ini menunjukkan adanya tahap publikasi telah memotivasi siswa untuk mengarang sebaik-baiknya. Fenomena tersebut sesuai dengan hasil penelitian Kounin (dalam Borich, 1996: 271) yang menemukan bahwa kunci untuk mencegah pembelajar dari kebosanan dan kepasifan adalah mendesain kegiatan belajar yang memungkinkan mereka benar-benar melihat adanya penghargaan terhadap yang telah dilakukannya. Adapun menurut Tompkins (1995:106) pemajangan karangan siswa pada dasarnya sebagai upaya memberi penghargaan kepada siswa terhadap keryanya dan itu juga merupakan reinforcement positif.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian tanda-tanda senagai feedback pada draf karangan siswa sangat membantu siswa dalam kegiatan memperbaiki karangannya. Menurut  Choudron feedback merupakan hal penting yang pasti terjadi di dalam interaksi pembelajaran yang baik (1988, 133). Menurutnya apapun yang dilakukan oleh pengajar, pembelajar mendapatkan masukan. Dari pandangan seorang pengajar bahasa, adanya umpan balik merupakan alat utama yang bisa memberitahukan kepada pembelajar mengenai ketepatan dalam menggunakan bahasa. Penggunaan umpan balik dalam rangka koreksi kesalahan berbahasa merupakan sumber pengembangan berbahasa yang sangat potensial. Bahkan oleh Allwright (1975: 98) dikatakan bahwa feedback mempunyai 3 fungsi, yakni sebagai pemberi reinforcement ‘penguatan”, information ‘informasi’, dan motivation ‘motivasi’. Feedback dapat memberikan pertimbangan pada pembelajar untuk mengulangi pemakaian pola-pola bahasa yang benar. Informasi yang ada pada feedback dapat digunakan oleh pembelajar untuk membenarkan atau tidak membenarkan dugaan-dugaan yang telah muncul dalam pikirannya terhadap suatu bentuk pemakaian bahasa. Adapun sebagai pemberi motivasi, feedback dapat mempengaruhi pembelajar untuk mencoba memperbaiki kesalahan bahasa yang terjadi. Ini disebabkan tidak adanya feedback akan timbul kecemasan akan gagal..
Dalam kegiatan koreksi kesalahan bahasa semua yang dilakukan guru dapat berfungsi  sebagai feedback, seperti pengajar melakukan pengulangan pada ujaran yang salah (repetition), melakukan konfirmasi, melakukan klarifikasi, melakukan interupsi, memberikan contoh, memberi tanda cek atau tanda lainnya (clues), atau menerangkan (Walz, 1982:4). Pemilihan bentuk feedack harus disesuaikan dengan tingkat penguasaan kaidah oleh pembelajar, kemajuan belajar yang telah dicapai, dan tujuan pembelajaran. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Day (dalam Chaudron, 1984:2) membedakan teknik pemberian feedback dalam kegiatan koreksi kesalahan menjadi 3, yaitu kegiatan koreksi tanpa feedback, dengan feedback secara langsung, dan dengan feedback secara tak langsung.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More