Kamis, 28 April 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA


5.          Kerangka Teoretik

a.     Keterampilan Proses
1).    Pengertian
      Ilmuwan menggunakan prosedur-prosedur investigasi untuk mengembangkan pengetahuan tentang fenomena alam. Keterampilan-keterampilan ilmiah yang digunakan untuk investigasi tersebut meliputi; (a) observasi(observation), (b) pengukuran(measurement), (c) eksperimentasi, (d)  komunikasi(communication), dan (e) keterampilan-keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills).
Keterampilan berpikir kritis merupakan dasar dan bagian dari proses investigasi ilmiah. Termasuk dalam keterampilan berpikir kritis adalah  berpikir induktif, berpikir deduktif, merumuskan hipotesis,  eksplorasi, sintesis, evaluasi dan berbagai keterampilan mental yang analog.
      Proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Ilmuwan mengembangkan teori melalui keterampilan proses, misalnya pengamatan, klasifikasi, inferensi, merumuskan hipotesis dan melakukan eksperimen. Keterampilan-keterampilan tersebut dimiliki oleh para ilmuwan berkat pengalaman dan latihan yang terus menerus. Dengan demikian dalam bentuk yang elementer dari apa yang mereka lakukan, dapat pula dipelajari oleh siswa. Hal ini tidak berarti pembelajaran IPA hendak menjadikan setiap siswa sebagai ilmuwan, tetapi mengembangkan mereka agar memiliki keterampilan- keterampilan sebagaimana cara-cara ilmuwan bekerja dan bersikap.

2).   Hasil-hasil Penelitian
      Berbagai penelitian telah dilakukan para ahli berkaitan dengan keterampilan-keterampilan proses ilmiah. Penelitian dalam strategi dan metodologi mengajar di Elementary School (setingkat sekolah dasar), menghasilkan kesimpulan yang jelas, bahwa para siswa yang belajar dengan pendekatan proses, belajar lebih banyak dari pada siswa-siswa yang belajar dengan pendekatan tradisional yang berbasis text-book (Bredderman, 1983 dalam Hartikainen,2003).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program-program pendekatan proses yang dilakukan pada periode tahun 1960 – hingga tahun 1970 seperti Elementary Science Study (ESS), Science Curriculum Improvement Study (SCIS) dan Science A Process Approach (SAPA), terbukti lebih efektif meningkatkan performance dan sikap siswa daripada program-program pembelajaran tradisional yang berbasis membaca.
Pada kondisi lain, di mana para siswa berada dalam kelas yang heterogen baik baik dari komposisi jenis kelamin dan latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda pendekatan keterampilan proses yang diprogramkan melalui ECC, SCIS dan SAPA, menunjukkan hasil yang lebih baik daripada mereka belajar sains melalui pendekatan tradisional. Melalui tes yang telah distandarisasi siswa-siswa tersebut menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam pengukuran.
      Berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa penerapan pendekatan keterampilan proses menunjukkan hasil yang baik untuk meningkatkan berbagai keterampilan pada siswa seperti keterampilan memecahkan masalah dan berbagai keterampilan intelektual bahkan keterampilan-keterampilan motorik siswa baik pada level sekolah dasar, maupun sekolah menengah.
       Berbagai hasil penelitian sebagaimana diungkapkan dalam artikel di atas membuktikan keunggulan pendekatan keterampilan proses dalam program-program pembelajaran bagi siswa. Salah satu yang esensial dari pendekatan keterampilan proses adalah melatih siswa untuk berpikir kritis.
Salah satu tujuan utama sekolah adalah meningkatkan kemampuan untuk berfikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini (Hartikainen, 2003). Berbagai contoh berpikir kritis termasuk mengidentifikasi iklan yang menyesatkan, menimbang bukti-bukti yang bertentangan dan mengidentifikasi asumsi atau argumentasi yang keliru. Seperti halnya setiap tujuan yang lain, belajar berpikir kritis memerlukan latihan, siswa dapat diberikan sejumlah dilemma (dua pilihan yang sulit), argument (alasan) logis dan tidak logis, iklan yang valid dan iklan yang menyesatkan dan sebagainya (Hartikainen 2003).
      Pembelajaran efektif tentang berfikir kritis bergantung pada penataan suasana kelas yang mendorong penerimaan pandangan divergen (berbeda) dan diskusi bebas. Tatanan itu juga lebih menekankan pada pemberian alasan atau pandangan daripada hanya memberikan jawaban yang benar. Keterampilan berpikir kritis paling baik akan dicapai siswa bila berhubungan dengan topik-topik yang dikenal siswa.
Hal yang paling penting tentang pembelajaran berpikir kritis adalah menciptakan suatu semangat berpikir kritis, yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru (Hartikainen, 2003). Lebih dari itu, guru harus siap dalam arti menguasai berbagai keterampilan untuk mengelola pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis kepada para siswa. Tanpa itu tentu berbagai kelebihan pendekatan keterampilan proses sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian para ahli tidak akan berarti apa-apa bagi peningkatan kualitas pembelajaran (Soetardjo, 1998).
3).   Komponen Keterampilan Proses
      Sejumlah pakar dan lembaga-lembaga pengembangan pembelajaran IPA mengklasifikasikan komponen keterampilan proses dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya diuraikan di bawah ini :
a).   Menurut Commision on Science Education of The American Asciciation for the Advancement of Science (AAAS)
      AAAS mengklasifikasikan keterampilan proses IPA menjadi keterampilan proses dasar (Basic Science Process Skills) dan keterampilan proses terpadu (Integrated Science Process Skills).
Keterampilan proses dasar terdiri atas; (a) pengamatan, (b) penggunaan hubungan ruang/waktu, (c) klasifikasi, (d) penggunaan bilangan, (e) pengukuran, (f) komunikasi, dan (g) inferensi. Sedangkan keterampilan proses terpadu meliputi; (a) pengontrolan variabel, (b) penginterpretasian data, (c) perumusan hipotesis, (d) pendefinisian variabel secara operasional, dan (e) eksperimen.
b).   Menurut Funk dkk.
            Funk dkk.(1979), juga mengklasifikasikan keterampilan proses menjadi keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu.
Keterampilan proses dasar terdiri atas ; (a) pengamatan, (b) klasifikasi, (c) komunikasi, (d) pengukuran, (e) prediksi, dan (f) inferensi. Keterampilan proses terpadu terdiri atas; (a) pengidentifikasian variabel, (b) penyusunan tabel data, (c) penyusunan grafik, (d) pendeskripsian hubungan antar variabel, (e) perolehan dan pemrosesan data, (f) pendeskripsian penyelidikan, (g) perumusan hipotesis, (h) pendefinisian variabel secara operasional, (i) perencanakan penyelidikan dan (j) eksperimen.
      Keterampilan proses dasar merupakan fondasi untuk melatih keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Menurut Nur (1996), enam keterampilan proses dasar yang perlu dilatihkan kepada siswa adalah: pengamatan, pengukuran, klasisifikasi, komunikasi, prediksi dan inferensi. Keenam keterampilan proses dasar ini merupakan prasarat untuk keterampilan proses terpadu.
      Seluruh keterampilan proses ini diperlukan apabila seseorang sedang berupaya menemukan pemecahan atas suatu masalah ilmiah. Keterampilan proses terpadu khususnya diperlukan apabila seseorang  melakukan eksperimen untuk memecahkan masalah. Keterampilan proses terpadu yang penting dilatihkan meliputi ; identifikasi variabel, pengontrolan variabel, interpretasi data, perumusan hipotesis, perumusan definisi operasional variabel, perencanaan dan pelaksanaan eksperimen.

4).  Praktikum Biologi Berbasis Keterampilan Proses
Konsep-konsep, prinsip-prinsip dan teori-teori yang berkaitan dengan makhluk hidup, merupakan inti biologi, suatu kajian tentang makhluk hidup dan kehidupannya.
Untuk kepentingan pendidikan, biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan teori-teori saja, malainkan juga merupakan suatu proses penemuan. Oleh karena, pembelajaran biologi harus menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Bagi siswa pengalan langsung dapat diperoleh melalui kegiatan praktikum biologi. Melalui kegiatan praktikum berbasis keterampilan proses, siswa dibantu untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses agar mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitarnya. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan mempertimbangkan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasi, mengajukan hipotesis, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan hasil temuan, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Di samping itu kemungkinan untuk mengembangkan teknologi relevan dari konsep-konsep biologi yang dipelajari. Dengan demikian, siswa memahami manfaat pembelajaran biologi bagi diri serta masyarakatnya (Purwoko,2005).
     Pada prinsipnya untuk melatihkan keterampilan proses kepada para siswa, perlu siswa benar-benar melakukan, seperti mengamati, mengukur, memanipulasi variable dan sebagainya (Soetardjo,1998). Oleh karena itu pendekatan ini lebih banyak menlibatkan siswa dengan objek-objek konkrit, sehingga mereka dapat memahami fakta-fakta dan konsep-konsep sains dengan lebih baik. Pembelajaran biologi melalui pendekatan keterampilan proses memberikan pengalaman langsung kepada siswa yang memungkinkan mereka menggunakan keterampilannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.


5).  Merancang Eksperimen
Menurut Dimyati (2002), Keterampilan merancang eksperimen perlu diberikan sejak dini. Merancang aksperimen dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang dimanipulasi dan direspon dalam penelitian secara operasional, kemungkinan dikontrolnya variabel hipotesis yang diuji dan cara mengujinya, serta hasil yang diharapkan dari eksperimen yang akan dilaksanakan. Contoh kegiatan yang tercakup dalam keterampilan merancang eksperimen adalah;
a)     Mengenali, menentukan dan merumuskan masalah yang akan diteliti,
b)     Merumuskan satu atau lebih “dugaan yang dianggap benar”, ini disebut menyusun hipotesis. Menyusun hipotesis dapat dilakukan dengan mendasarkan dugaan pada pengalaman sebelumnya atau observasi atau intuisi.
c)     Memilih instrument/alat yang tepat untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang dirumuskan.
      Merancang eksperimen pada dasarnya adalah menentukan prosedur yang akan diikuti dalam melakukan eksperimen (Nur,2000). Suatu prosedur memuat alat dan bahan apa yang digunakan dan bagaimana menggunakan bahan itu. Setelah mengikuti prosedur itu, data diperoleh. Dari data ini dapat ditarik kesimpulan dan membuat pernyataan tentang hasil eksperimen. Apabila kesimpulan yang ditarik dari data menunjang hipotesis, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis dapat diandalkan. Dapat diandalkan artinya bahwa kesimpulan dapat dipercaya.

6.         Rencana Penelitian
a.     Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 16 Semarang, pada Kelas XII Program Ilmu Alam Tahun Pelajaran 2006/2007.
b.     Disain dan Metoda Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang direncanakan dalam tiga siklus. Tiap siklus dikembangkan mengacu pada perubahan yang terjadi terhadap faktor-faktor yang diselidiki.
Untuk siklus pertama, tindakan di rinci sebagai berikut :
     1).  Perencanaan
a).  Menganalisis/memilih materi pembelajaran.
b).  Membuat rencana pembelajaran
c).  Menyiapkan sarana/prasarana pembelajaran
d).  Mendisain instrumen untuk mengukur peningkatan kemampuan siswa dalam merancang dan menyusun laporan eksperimen.

2). Pelaksanaan Tindakan
Melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Pada tahapan ini dilaksanakan kegiatan praktikum biologi berbasis keterampilan proses.
Setelah tindakan dilakukan analisis terhadap rancangan dan laporan eksperimen yang dilakukan siswa menggunakan instrument yang telah disusun sebelumnya.

3). Observasi
Dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan praktikum biologi berbasis keterampilan proses, aktivitas guru sebagai fasilitator berlangsungnya kegiatan praktikum biologi berbasis keterampilan proses.

4). Refleksi
Pada tahapan ini dilakukan analisis hasil observasi. Kemudian dilakukan refleksi apakah tindakan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam merancang dan menyusun laporan eksperimen. Hasil analisis digunakan untuk merencanakan siklus berikutnya.

c.      Data dan cara Pengambilannya
1). Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru.
2). Jenis Data
Jenis data yang diperoleh meliputi data kualitatif dan kuantitatif, terdiri dari :
a).  Rencana pembelajaran, digunakan untuk mendapatkan data kesesuaian kegiatan praktikum biologi dengan kegiatan praktikum biologi yang direncanakan untuk melatihkan berbagai keterampilan proses dasar maupun keterampilan proses terpadu.
b). Data hasil observasi, meliputi hasil pengamatan terhadap langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru dan respon siswa dalam kegiatan praktikum biologi yang berbasis keterampilan proses.
c). Jurnal harian guru, dibuat oleh guru mencatat hal-hal yang terjadi selama pembelajaran berlangsung dan respon siswa di luar pembelajaran, digunakan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan pembelajaran dalam pelaksanaan siklus berikutnya.
d). Hasil angket, mendeskripsikan pendapat siswa, rekan guru, dan kepala sekolah tentang penerapan kegiatan praktikum biologi berbasis keterampilan proses, berkaitan dengan persiapan, pelaksanaan dan dampaknya.

3). Cara Pengambilan Data
a)     Data keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan didapat dari analisis rencana pembelajaran.
b)     Data tentang kegiatan praktikum biologi pada saat tindakan diperoleh dari hasil observasi.
c)     Data tentang refleksi diri guru serta perubahan yang terjadi pada siswa diperoleh dari jurnal harian guru.
d)     Data mengenai kemampuan siswa dalam merancang dan menyusun laporan eksperimen, analisis rancangan dan laporan eksperimen.
e)     Data pelengkap tentang respon siswa terhadap kegiatan praktikum cara guru memfasilitasi kegiatan praktikum diperoleh dari angket siswa.

d.     Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah jika 70% siswa dapat membuat rancangan eksperimen dan menyusun laporan eksperimen berdasarkan tahapan kerja ilmiah.

  1. Daftar Pustaka
Arikunto,Suharsimi.1998.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Penerbit Rineka Cipta.

Arikunto,S. Suhardjono. Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Dahar,Ratna Wilis.1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Depdiknas.2003a.Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi SMA/MA. Jakarta.

________ .2003b. Kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Biologi. Jakarta.

Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Hartikainen,Anu-Kari Sormunen. 2003. Seven-Grade Pupils’ Scientific Process Skills in Biology Context. Artikel Penelitian, dalam http://www2.educ.sfu.ca (Dikunjungi :16/12/2003)

Nasoetion,Andi Hakim.1992.Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah Bagi Remaja.Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Nurhayati. 2000. Pengembangan Paket Pembelajaran Bioteknologi dan Pengaruhnya Terhadap Sikap, Minat, Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa SMU. Disertasi. Malang: Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang.

Nur,Mohamad.1996.Teori Pembelajaran IPA dan Hakekat Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta : Ditjen Dikdasmen,Depdikbud.

Nur,Mohamad. 2000. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains. Surabaya : Pusat Sains dan matematika Sekolah Program Pascasarjana UNESA-University Press.

Nur,Mohamad. 2002. Trend Penelitian Pendidikan MIPA di Masa Datang. Makalah pada Seminar hasil Penelitian MIPA dan Pendidikan MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta,26 Oktober 2002.

Purwoko,Agung. 2005. Pembelajaran Biologi Berbasis Keterampilan Proses Dan Pengenalan Prosedur Penelitian Pada Siswa SMA. Makalah. Seminar Nasional Pengembangan Pembelajaran MIPA dan Implementasinya Pada Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. IKIP PGRI,Semarang, 27 Juni 2007.


Soertardjo. 1998. Proses Belajar Mengajar dengan Metode Pendekatan Keterampilan Proses. Surabaya : Penerbit SIC Kerja sana dengan LPM-IKIP Surabaya.

Zuriah,N. 2003. Penelitian Tindakan Dalam Bidang Pendidikan dan Sosial. Malang: Bayumedia Publishing.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More